Mania Cinema

La La Land: Mimpi Juga Bentuk Dari Jatuh Cinta.

Impian ternyata bukan cuma menjadi muara harapan tetapi juga bisa menjadi salah satu sumber rasa sakit. Demi impiannya, Sebastian rela untuk berpisah dengan Mia. Sebs memilih untuk tetap bertahan di Los Angles dan berjuang mendirikan sebuah Kelab Jazz klasik di tengah pasar musik yang semakin modern. Mia pun demikian, ia pergi ke Paris untuk mewujudkan mimpi menjadi seorang aktris. Hal ini membuat mereka harus berpisah. La La Land membawa konsep dinamika romansa yang unik antara manusia dengan impiannya. Upaya menggapai cita-cita ini membawanya kedalam kemungkinan-kemungkinan yang mungkin akan bahagia, atau sebaliknya.

Sebs dan Mia sudah bersiap akan kemungkinan kandasnya percintaan mereka. Cinta seharusnya tak menghanguskan cita-cita seseorang. Kurang lebih itulah yang dipahami mereka. Sebs dan Mia sepenuhnya
sadar kalau mereka menyerah dengan mengatasnamakan objek cinta mereka pada bentuk yang salah, maka semua impian mereka pun akan menjadi sesuatu yang dimaknai secara dangkal. Bukan lagi tentang apa itu memiliki sebuah klub jazz klasik atau menjadi aktris profesional.

Mimpi tak ubahnya menjadi sesuatu yang menyakitkan bagi keduanya, namun Sebs dan Mia melebur perasaan sakit atas realitas impian mereka yang begitu terjal untuk dicapai pada bentuk cinta yang baru. Bagai seseorang yang melarikan diri dari sebuah realitas, keduanya tersadar bahwa apa yang sebenarnya mereka cintai hanyalah impian-impian mereka.

 Mungkin mereka jatuh cinta kepada impiannya

Fromm (1956) memiliki pandangan bahwa setiap manusia terlahir dengan membawa sebuah berkah yang dinamakan kesadaran atau awareness. Baginya, kesadaran ini meliputi bagaimana manusia sadar akan dirinya
sendiri, sadar akan kemungkinan masa depannya, hingga sadar akan jangka hidupnya yang pendek. Diantara semua jenis kesadaran tersebut, ada satu yang mendasari manusia untuk terus menjalin ikatan dengan lingkungan sekitarnya yaitu kesadaran akan perpisahan atau yang juga disebut awareness of separation.

Manusia sedari lahir sudah sadar bahwa mereka adalah entitas yang terpisah antara satu dengan lainnya, mulai mereka dilahirkan (terpisah dari rahim ibu) hingga mereka meninggal (terpisah secara eksistensi dengan yang hidup). Hal tersebut pun menjadi akar dari segala bentuk kecemasan yang menghinggapi manusia sepanjang hidupnya, ketika keterpisahan dimaknai menjadi sebuah putusnya akses ataupun ketidakmampuan untuk bisa
menjalin ikatan dengan dunia dan manusia secara normal.

Manusia pun selalu memiliki dasar dorongan untuk bisa mengatasi perasaan keterpisahan tersebut dengan berbagai cara salah satunya yaitu membentuk sebuah keterikatan yang bukan lagi bersifat orgiastik atau sementara tetapi keterikatan yang didasarkan pada sebuah keyakinan yang nyata. Fromm lebih lanjut berpendapat bahwa cinta tidak melulu tentang sebuah hubungan dengan orang-orang tertentu melainkan lebih dipahami sebagai sebuah sikap yang dicerminkan melalui bagaimana seseorang tersebut menjalin keterikatan dengan dunia di sekelilingnya secara utuh, bukan hanya pada satuobjek tertentu saja.

Sebs dan Mia sadar bahwa eksistensi mereka memiliki konsep yang sama dengan manusia lainnya bahwa mereka adalah entitas yang terpisah satu dari lainnya, kesadaran yang merupakan akar dari segala jenis kecemasan ketika keterpisahan itu dimaknai sebagai terputusnya akses karena adanya jarak antara satu orang dengan orang lainnya yang hanya bisa dijembatani oleh sebuah objek yang disebut cinta.

Untuk mengatasi hal tersebut, Sebs dan Mia berulang kali berusaha untuk membentuk sebuah keterikatan antara satu sama lain. Musim demi musim  mereka lewati bersama, dari jazz-date dan segala perdebatan mereka tentang musik jazz hingga momen di planetarium menjadi puncak perasaan antara keduanya. Namun nyatanya semua hal tersebut hanya bersifat orgiastik karena hal tersebut hanya merupakan jalan keluar sementara yang diciptakan dari sebuah kecemasan kesepian.

Pada akhirnya kecintaan mereka pada impian ini terlalu besar, Mia mulai mempertanyakan keseriusan Sebs akan impiannya tentang kelab jazz ketika Sebs sudah terlalu nyaman dengan kegiatan band yang dilakukannya. Sebs pun rela menjemput kembali Mia dari rumahnya ketika Mia mulai menyerah dan kecewa pada impiannya menjadi seorang aktris. Mereka memahami satu sama lain dan sadar bahwa yang mereka berdua butuhkan bukan
kebersamaan satu sama lain tetapi bagaimana mereka bisa tetap menghidupi impiannya.

Mereka sadar bahwa bentuk cinta yang hadir diantara mereka bukanlah objek cinta yang sesungguhnya mereka yakini, Sebs dan Mia tahu bahwa kesadaran akan keterpisahan yang tidak dibarengi dengan pemenuhan objek berupa cinta yang tepat hanya akan memunculkan kecemasan-kecemasan baru. Sempat salah dalam mengatasi hal tersebut hingga tenggelam pada romansa semu, keduanya menyadari bahwa terdapat objek yang mampu membuat mereka bisa mengatasi perasaan keterpisahan tersebut yakni kecintaan mereka pada impiannya.

Keyakinan yang kuat terhadap mimpi mereka masing-masing membuat keterikatan yang terjalin pun tidak hanya bertahan sementara atau periodik. Tanpa keyakinannya, Sebs mungkin akan tetap jadi pemain band populer biasa dan membuang harga diri jazz klasiknya. Sama juga dengan Mia, mungkin akan tetap lanjut untuk studi-nya kalau aja dia gak punya keyakinan yang kuat untuk jadi aktris. Pada perkembangan yang semakin modern dimana
musik jazz klasik mungkin sudah tidak memiliki tempat lagi di tengah kemajuan serta evolusi teknologi pada dunia musik, Sebs masih memegang teguh keyakinannya akan mimpinya untuk menghidupkan kembali klub jazz klasik. Mia pun sama, meskipun harus ditolak dan gagal berulang kali pada proses casting ataupun sepinya peminat pada dunia seni teater monolog tetapi ia tetap begitu mencintai impiannya.

Nyatanya bagaimanapun gilanya mimpi-mimpi Sebs dan Mia, dan betapa berliku-nya proses untuk pada akhirnya bisa mencapai semua yang mereka impikan, keduanya mengawalinya dengan bagaimana kuatnya keyakinan
yang mereka miliki pada impiannya masing-masing. Meskipun terkadang impian yang mereka miliki terasa begitu jauh dan mustahil tetapi kecintaan mereka terhadap mimpi-mimpi itu sendiri sudah cukup sebagai pengingat untuk tidak pernah berhenti meyakini hal tersebut.

Epilog tragis, namun begitulah mimpi.

Fromm menjelaskan bahwa pada perkembangan masyarakat yang semakin modern, individu semakin jarang untuk memahami akar dari perasaan cinta mereka. Orang-orang terlalu berfokus pada hal-hal eksternal yang memiliki pengaruh dengan perasaan cinta itu sendiri seperti; kesuksesan, prestige, uang dan unsur kapitalisme lainnya. Pemaknaan pada konsep cinta ini pun tereduksi menjadi bentuk-bentuk yang dapat diterima secara kolektif. Ketika
semakin banyak individu yang menganggap cinta hanyalah ilusi dan sementara, maka selanjutnya cinta berakhir menjadi sebuah komoditas yang melahirkan sesuatu yang cukup dangkal.

Premis tersebut menurut Fromm menghadirkan sebuah asumsi bahwa permasalahan terkait cinta selalu ada terletak pada objeknya, bukan pada kemampuan atau kapasitas untuk mencinta. Pada akhirnya, seseorang selalu berpikir bahwa konsep cinta merupakan sebuah konsep yang simple,  tetapi bagaimana untuk menemukan objek yang tepat-lah yang membuatnya menjadi rumit. Maka dari itu, Fromm menjelaskan bahwa konsep cinta bukan lagi tentang kedekatan kepada objek tertentu melainkan bagaimana seseorang mampu menjalin keterikatan dengan dunia
sekitarnya secara utuh.

Sebuah epilog indah tentang akhir kisah cinta Sebs dan Mia yang mungkin lebih diterima audiens ditampilkan. Kali ini, keduanya menjadi sebuah keluarga kecil, memiliki seorang anak serta hidup di dalam rumah yang bahagia layaknya keluarga normal. Ternyata kebahagiaan keduanya bisa dicapai dengan cara yang lain, jauh dari impian memiliki sebuah kelab jazz ataupun menjadi seorang aktris. Sepanjang sekuens, semuanya diperlihatkan begitu indah, beginilah perasaan cinta mereka berakhir jika menyerah pada impian-impiannya dan membiarkan cinta mereka menjadi dangkal.

Ternyata semua hal tersebut tetap hanyalah angan semata, sebuah akhir alternatif ketika Sebs dan Mia menyerah untuk terus mengejar impian mereka. Nyatanya, Sebs meyakini bahwa untuk memiliki kelab Jazz klasik tetap menjadi objek dari perasaan cintanya. Pun dengan Mia yang akhirnya berhasil menjadi seorang aktris yang terkenal sesuai apa yang selama ini ia perjuangkan. Mungkin akhirnya keduanya kehilangan apa yang mengikat mereka
karena telah memilih untuk mengejar impian masing-masing daripada harus hidup bersama. Sebs dan Mia pun masih tersenyum kepada satu sama lain di akhir cerita, mengisyaratkan tidak ada sedikitpun penyesalan karena telah “berkorban” untuk impian masing-masing dan benar-benar berhasil mewujudkannya.

Here’s to the fool who dreams, Crazy as they
may seem.

Penulis : Dicky Prastya

Desain : Nona Damanik

La La Land | 2016 | Sutradara :Damien Chazelle  | PemeranRyan Gosling, Emma Stone, Rosemarie DeWitt , John Legend, J.K Simmons | Negara Asal : Amerika Serikat| Durasi : 128 Menit | Produksi : Summit Entertaiment

 

Penonton film biasa yang gampang ketiduran waktu nonton. Menulis ulasan di Dickbot Mufi, tapi lebih suka bikin puisi buat crush daripada nulis resensi film.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top