Mania Cinema

Outside The Frame: Potret Jakarta yang Terus Bergerak

Jakarta adalah kota yang rumit, tiap orang kurasa setidaknya memiliki pandangannya sendiri terhadap kota rusuh itu. Aku sendiri punya hubungan yang rumit dengan Jakarta. Walaupun lahir dan menghabiskan 6 tahun semasa kecil tinggal di Jakarta, tapi, aku tetap merasa asing dengannya. Tidak peduli berapa kali aku diajak pergi bersama abangku ke Jakarta, Jakarta tetap terasa asing. Hal yang kuingat hanyalah lampu-lampu gedung, lalu-lintas bising, dan monumen-monumen kapitalisme dalam bentuk gedung-gedung pencakar langit.

Terakhir kali aku ke Jakarta, abangku mengajak aku pergi ke TIM (Taman Ismail Marzuki). Dia berkuliah di IKJ, yang gedungnya berdekatan dengan tempat tersebut. Kita hanya duduk-duduk, merokok, dan mengobrol tanpa arah sambil melihat jalanan yang begitu ramai. Menonton film Outside The Frame, mengingatkanku dengan momen tersebut. Betapa kompleks Jakarta, bagi mataku yang asing terhadap sentuhannya.

Konsep Outside the Frame terlihat sederhana; pesan film ini dituturkan hanya dengan menggunakan 1 shot long take yang diiringi dengan dialog dua mahasiswa yang mengerjakan tugas. Seperti ketika mereka membicarakan tentang nikmatnya jalan kaki di trotoar pusat kota Jakarta, dan suara berisik lalu lintas yang terdengar seperti suara musik Jazz. Dalam film ini, terdapat dua orang berbicara di balik layar. Secara spesifik, mereka merekam shot film di daerah Jakarta Pusat, yaitu di sekitar simpang lampu merah M.H Thamrin.

Mereka merekam kehidupan Jakarta yang begitu sibuk, bahkan di malam hari. Suara motor yang berisik, warna-warni cahaya lampu gedung-gedung komersial, dan  keramaian pengunjung pusat kota. Melalui dialog kedua karakter di film ini, dapat disimpulkan bahwa mereka terdengar seperti orang dari luar kota. Logat mereka tidak terdengar seperti orang Jakarta. Keramaian kota Jakarta terlihat asing dalam sudut pandang mereka. Mungkin rasa asing tersebut, bercampuran dengan rasa kagum melihat kota Jakarta yang begitu megah dibandingkan kota asalnya.

Ketika menonton film ini di Yogyakarta, saya dibuat mengingat kembali suasana kehidupan di Jakarta. Meskipun sudah lama tidak menetap di sana, pengalaman setiap kali kembali ke Jakarta setelah lama berada di luar kota sangatlah membekas untuk saya. Terdapat suatu ciri khas tersendiri yang dimiliki Jakarta, jika dibandingkan dengan kehidupan di kota lainnya. Jakarta seperti kota yang tidak pernah libur, ataupun tidur. Ketika saya melihat gedung-gedung kota Jakarta dari kejauhan di malam yang larut, Jakarta terlihat masih hidup dengan cahaya-cahayanya yang tak pernah padam.

Dalam film Outside The Frame, keramaian yang mewarnai Jakarta dirangkum dalam 1 shot long take yang hanya berdurasi sekitar 5 menit. Misalnya, di perempatan lampu merah, banyak motor dan mobil yang berlalu lalang, dan tidak jarang ada bunyi berisik dari klakson pengguna jalan yang sudah muak dengan lalu lintas Jakarta. Dalam film ini terekam bagaimana lalu lintas Jakarta memberikan kehidupan pada kota itu. Di sana adalah tempat kesabaran masyarakat diuji, dan tidak jarang menjadi tempat beradunya emosi satu sama lain. Jakarta memiliki energi yang agresif karena itu. Selain lalu lintas, trotoar dan tempat-tempat di pinggir jalan juga memberikan warna pada Jakarta. Emosi ini yang ingin digambarkan sineas dalam Outside The Frame

Salah satu karakter di film ini, mengungkapkan rasa sukanya berjalan kaki disana. Memang benar, daerah pusat kota sangat enak digunakan untuk jalan kaki, apalagi di malam hari. Film ini menggambarkan bagaimana pengalaman berjalan kaki itu dalam satu frame dalam bidikan lebar. Bidikan lebar ini memuat banyak kejadian yang terjadi. Mulai dari pejalan kaki yang menyebrang, pengendara lalu lintas yang lalu lalang, gedung pencakar langit dan lain-lain. Walaupun hanya dalam satu bidikan, Outside The Frame mampu menggambarkan bagaimana kehidupan metropolitan Jakarta dari sudut pandang dua mahasiswa ini. Dari hal tersebut, semuanya dijadikan satu di dalam film ini. Seperti komposisi berbagai instrumen yang berbeda dalam satu lagu, film ini menjadi wadah untuk instrumen-instrumen yang mewarnai Jakarta.

Film ini mengingatkanku terhadap momen yang aku alami bersama abangku di Taman Ismail Marzuki. Sambil melihat kehidupan kota, kita berdialog buta di tengah keramaian. Dan setelah itu, aku dan abang pulang ke rumah. Meskipun setelah itu, kita terdampar di tengah macet. Ketika itu aku mengalami Jakarta, seperti kedua karakter dalam film ini. Bagi mereka Jakarta adalah delusi yang indah yang diiringi oleh musik Jazz dari suara knalpot. Outside The Frame bukan sekadar film pendek tentang Jakarta. Tapi adalah rekaman realitas Jakarta dari sudut pandang pendatang. Walaupun aku dan abangku lahir di Jakarta, tiap berjalan ke pusat jalanan Jakarta seperti yang ditampilkan di film selalu membuat setidaknya kami merasa terasing. Asing dalam lamunan keriuhan dan hiruk-pikuk Jakarta yang begitu cepat. Outside The Frame dengan tepat menggambarkan perasaan itu, merasa asing dan aneh, tertelan dalam Jakarta yang terus bergerak.

Artikel ini merupakan luaran dari lokakarya menulis kritik film yang diadakan Mania Cinema dan Sewon Screening dengan program Kelas Bunga Matahari pada 26-30 September 2023.

Outside The Frame| 2023| Sutradara: Micko Boanerges

 

Lahir di Jakarta dan menetap secara nomaden. Menggemari Shuji Terayama dan musik hiphop. Saat ini sedang menyelesaikan studi sarjana Filsafat di Yogyakarta. Kalau sedang senggang sukanya baca buku sampai ketiduran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top