Mania Cinema

A Man and A Camera: Singkat Saja, What’s The Meaning of This?

Warga setempat dikejutkan dengan kemunculan seorang lelaki antah-berantah yang membawa kamera. Lelaki itu bisa tiba-tiba datang sembari merekam siapapun yang rumahnya ia kunjungi. Keganjilan tersebut pastilah berbuah rasa penasaran.

Seharusnya pertanyaan yang muncul terhadap orang asing adalah “kamu siapa?” Tapi karena dihadapkan dengan kamera yang sedang merekam, pertanyaannya berubah jadi “ini maksudnya apa?”

Tangkapan kamera awal menyorot aspal jalan dan bayangan si pemegang kamera, mungkin ini semacam penegasan bahwa lelaki itu memang seorang diri dalam—saya lebih suka menyebutnya—eksperimen sosial dengan perangkat kamera.

Terekam reaksi yang beragam. Dari yang memukulnya hingga yang mempersilakannya masuk ke rumah, bahkan mengajaknya menyantap secangkir kopi atau teh. Tentu ada juga yang menutup kembali pintunya sesegera mungkin. Tapi lelaki itu sama sekali tak bergeming, suara yang ada dalam film hanya berasal dari seseorang yang sedang direkam kamera.

Mereka ketakutan akan ada bahaya yang menganggu entah itu privasi maupun kepemilikan mereka. Tak bisa ditampik pula respon yang keluar dari mereka seperti itu, lelaki itu juga datang tanpa ada upaya berdialog karena aturan yang ia jadikan konsep dalam membuat film dokumenter aneh A Man and A Camera (2021)[1]. Selain rasa was-was penonton, proses penciptaannya jadi terkesan horor sekaligus komedi. Hal itu karena sang pemegang kamera bisa kapan saja menerima perlakuan kurang baik. Ada adegan di salah satu rumah yang memberi tahu bahwa sang pemegang kamera sedang diperbincangkan dalam sebuah grup aplikasi chat warga setempat. Dan saya sendiri juga selama menonton dibuat tergangggu dan tidak nyaman setiap kali ia menekan bell pintu.

Cukup lumrah hari ini menemukan orang yang merekamu—entah sepengetahuanmu atau tidak—untuk keperluan konten bernilai jual tinggi atau sekadar membagikan ruang dan waktu keberaadan orang tersebut. Kita bisa lihat hal itu di Instastory dan berbagai macam konten di Youtube yang memiliki bejibun penonton setia. Atau contoh yang sangat degil sekaligus menjijikan: program televisi 86 yang mendaku produknya sebagi bentuk jurnalisme. Mata kamera dari ketiganya hampirlah sama; objeknya dapat dipersalahkan, mempertontonkan kekonyolan atau kemirisan, dan menampilkan pembuatnya sebagai juru selamat.

A Man and A Camera tidak demikian, bahkan berada dalam koridor yang sangat jauh. Film ini mengandalkan spontanitas si subjek atas geliat rasa penasaran yang tinggi dari si pembuat filmnya. Tidak memiliki dramatisasi dan alur cerita sama sekali, hanya butuh keberanian seseorang yang akan merekam. Apa yang akan terjadi nanti itulah isi dan makna dari filmnya; penerimaan seseorang terhadap orang asing yang sedang merekamnya.

Pembuatan film dokumenter tanpa memiliki narasi, tokoh, skenario, atapun antarjudul; tidak perlu dramatisasi dalam penangkapan kamera. Mencoba memperkukuh jarak sinematik yang bisa terlepas dari bahasa sastra dan teater—dengan keyakinan bahwa sinema memiliki bahasanya sendiri.[2] Konsep Dziga Bertov dalam film A Man with A Movie Camera (1929) ini dielobarasi lagi oleh lelaki itu dalam film A Man and A Camera.

Lelaki itu adalah filmmaker dokumenter yang sedang membuat proyek baru, melalui orang-orang yang dikunjunginya sebagai tokohnya. Semua identitas ihwal dirinya harus disembunyikan, karena ketidaktahuan mereka terhadapnya merupakan syarat agar dokumenter ini bisa rampung. Dengan cara, sengaja melakukan provokasi lewat kamera terhadap subjek guna mendapat kejadian-kejadian tak terduga.

Ialah Guido Hendrikx yang mengitari sebagian besar daerah perbatasan Belgia dan Jerman. Merekam setiap orang yang ia kunjungi tanpa menyatakan maksudnya; tanpa berkata sepatah kata. Ketika diwawancara oleh Chris Boeckman, tukasnya, proyek film ini merupakan pengembangan yang lebih serius dari kegiatannya yang merekam secara acak orang-orang di jalanan Belgia. Kegiatan yang dilakukan hampir satu dekade lalu itu menimbulkan pengalaman hubungan kekuasaan antar individu yang menarik dijelajahi kembali. Mengantarkan Guido Hendrikx untuk beralih dari merekam individu di jalanan ke ranah yang lebih privat: rumah.[3]

Apa yang Guido Henndrikx ingin tonjolkan di film ini, sepengamatan saya, yaitu memperlihatkan reaksi orang jika disorot kamera oleh seseorang yang tak pernah ia kenal. Bagaimana orang itu bersikap hingga mimik muka yang ditampilkan. Sepanjang film saya sebagai penonton dibuat merasakan: malu, tegang, dan menduga-duga apa yang akan dilakukan orang terhadapnya. Kebebalan ini memang harus diacungi jempol. Terkesan baru di ranah film dokumenter yang biasanya menekankan suatu isu, peristiwa, sejarah melalui narasumber yang memiliki hal penting entah itu dikemukakan atau diselidiki lebih lanjut.

Namun, kalau memang film ini bertujuan menelisik aspek hubungan sosial manusia secara luas, saya ragu.  Apa yang jadi tindak-tanduk orang-orang di dalam film tak lepas dari budaya dan lingkungan mereka, misalnya Eropa. Dan jika dipersempit lagi secara sinis, malah hanya informasi karakter/kepribadian yang nampak di muka dari orang-orang tadi untuk tetangga di daerahnya. Pasalnya hak privasi di hadapan kamera hari ini jadi agak riskan dan memiliki urgensinya sendiri; di mana data pribadi sekarang ditilik memiliki nilai jual yang menjanjikan.

Karena bagaimanapun, Guido Hendrikx mengandaikan orang-orang sebagai objek dari kameranya sebagai otoritas, yang nantinya bisa ia konversi ke dalam bentuk apapun (A Man and A Camera jadi sebuah film dokumenter). Kemudian respon-respon dari orang yang direkamnya merupakan upaya mempertahankan subjektifitas diri masing-masing atas pembekuan realitas subjek ke dalam objektifitas film. Intensi yang beragam ini tergantung kekuasaan atas kedaulatan si subjek terhadap sang subjek kamera, tapi toh, Guido Hendrikx tidak berupaya berkomunikasi sama sekali.[4]

Namun adegan yang ingin lebih saya tekankan, menjaga kepemilikan jadi titik yang menarik untuk dilihat atas kecurigaan dan ketidakpercayaan satu individu terhadap individu lain, seperti warga yang didatangi orang asing seperti Guido Hendrikx. Dalam film, ada satu pemilik rumah yang merespon keberadaan Guido Hendrikx secara kasar, entah melayangkan pukulan atau mendorong kamera tidak persis diketahui, yang jelas tangkapan kamera tiba-tiba buyar tak terarah.

Perlakuan kasar itu merupakan satu-satunya yang ada di sepanjang film. Ada reaksi dan respon yang berlebihan jika dibandingkan dengan rumah-rumah lain yang Guido Hendrikx tonjolkan di film. Rumah itu juga yang paling mewah ketimbang rumah-rumah lain yang direkam, memiliki gerbang otomatis dengan halaman luas, jarak dari gerbang ke pintu depan rumah juga menempuh beberapa langkah.

Pertama, untuk hal ini kesampingkan standar rumah layak huni. Sejak lahan atau tanah bisa dikapling-kapling secara pribadi dan terciptanya hukum yang melegalkan praktik tersebut (enclosure), ruang dan tanah adalah barang dagangan. Hanya yang memiliki kekayaan yang bisa memiliki luasan tanah yang memadai.

Kedua, selain kenyamanan dan memperkukuh status sosial, hal apa lagi yang membuat orang membangun rumah dan halaman yang besar? Menjaga kepemilikan pribadi yang jumlahnya lebih dari kepemilikan mayoritas masyarakat. Ada ketakutan bahwa mayoritas masyarakat tersebut bisa menganggu yang telah menjadi milik pribadi karena rasa iri, kurang berbudi, dan kebodohan yang dilekatkan kepada mereka ketika terjeremus ke angka kemiskinan.

Pagar rumah tinggi, pekerja keamanan (sekuriti), bahkan tak jarang dibutuhkan CCTV. Bukan persoalan estetika belaka, terdapat pula ketidakpercayaan kepada sesama. Hasilnya ialah bentuk individualis dalam artian yang paling buruk.

Namun peradaban yang hampir menjangkit seluruh dunia hari ini memang mengharuskan kita hidup sedemikian rupa. Waktu di luar kerja yang sedikit, reproduksi tenaga yang kita butuhkan untuk hari esok, dan tektek-bengek aktivitas peradaban modern; mungkin satu lagi poin dari faktor kenapa Guido Hendrikx mengatakan waktu (pagi-siang-malam) berperan besar dalam reaksi orang-orang kepadanya di film ini[5].

Referensi:

[1]Ibid. Chris Boeckman. “A MAN AND A CAMERA: A FILM BY GUIDO HENDRIKX.”

[2] https://www.youtube.com/watch?v=cGYZ5847FiI&t=724s “Man With a Movie Camera (1929)” diakses pada tanggal 23 November 2021

[3]Chris Boeckman. “A MAN AND A CAMERA: A FILM BY GUIDO HENDRIKX.” (https://noisefilmpr.com/sites/default/files/2021-03/A%20man%20and%20a%20camera%20_EPK%20%281%29.pdf diakses pada tanggal 21 November 2021)

[4] Roland Barthes,Camera Lucida, penerj. Richard Howard (New York: Hill and Wang, 1981)

[5] Ibid. Chris Boeckman. “A MAN AND A CAMERA: A FILM BY GUIDO HENDRIKX.”

A Man and A Camera | 2021 | Sutradara: Guido Hendrikx | Negara: Belanda | Produksi: Boondocs, Aventura

Katanya orang bisa dikenal dari musisi/daftar putar yang ia suka. Coba aja iseng,deh: The Weakerthans, First Aid Kit, Gouge Away, Brian Eno, Beach House, Leya, Vein.fm, Liturgy, Downton Boys, Gulch, Japanese Breakfast, Manic Street Preachers, Flowerface.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top