Mania Cinema

“Apakah ini Kisah Cinta?”: Naoko Yamada Menulis Ulang Pengakuan Cinta

Artikel ini diterjemahkan dari artikel milik Ian Wang dengan judul “Is This a Love Story?”: Naoko Yamada Rewrites the Love Confession di Bright Wall/Dark Room pada 20 Juni 2020.

Di separuh jalan film drama SMA garapan Naoko Yamada, A Silent Voice (2016), Shouko Nishimiya mengungkapkan perasaannya kepada Shouya Ishida, tokoh utama film yang jangkung, kurus, nan kesepian. Ia membisikannya, pelan-pelan, penuh keraguan, kemudian meneriakkannya: “Aku suka kamu!” Tetapi Shouya tidak memahaminya—Shouko tidak bisa mendengar dan, meskipun mereka biasa berkomunikasi dengan bahasa isyarat, kali ini Shouko memilih untuk mengucapkan perasaannya, dan Shouya mendengar pengejaan 好き (suki, “aku suka kamu”) menjadi 月 (tsuki, “bulan”).

Adegan ini menghadirkan subversi ringan yang komikal terhadap adegan pengakuan cinta yang klise. Bicara tentang adegan pengakuan cinta, semua orang memiliki adegan favoritnya—pengakuan penuh gejolak yang dilakukan Billy Crystal di When Harry Met Sally; ungkapan perpisahan penuh kesedihan oleh Carrie Fisher di The Empire Strikes Back; monolog sarat emosi Tom Cruise di Jerry Maguire. Pengakuan cinta juga merupakan tradisi dengan sejarah panjang dalam anime, industri yang telah banyak sekali memproduksi cerita cinta masa SMA. Anime romance, seperti halnya di Hollywood dengan film romcom atau film remaja, adalah genre yang penuh akan trope dengan prinsip-prinsipnya yang jelas—adegan pengakuan cinta menjadi trope paling utama—dan yang pasti dinantikan oleh penonton.

Film-film Yamada sering menghadirkan ketegangan yang menarik terkait dengan ekspektasi terhadap trope yang umum. Sepanjang karirnya, ia selalu memegang hubungan yang rumit, penuh kehati-hatian, terhadap berbagai pertanyaan pada suatu genre dengan aturannya: karya-karya awalnya merupakan serial TV slice-of­­­-life yang hangat dan ringan seperti, K-On! dan Tamako Market, keduanya menyentuh garis batas antara suasana larger than life[1] yang komikal dengan sentuhan realisme yang membuatnya terasa dekat dan membumi, dan pada setiap adegan pengakuan cintanya lah ketika realisme tersebut tampak paling jelas. Salah satu keunikan Yamada yang paling menonjol dan unik sebagai sutradara adalah kemampuannya untuk mengekspresikan tekanan emosi dari pengakuan cinta, bukan dengan pertunjukan yang bersifat megah atau teatrikal, tapi dengan kerentanan dari percakapan yang tulus dan jujur.

Kepekaan pendekatan Yamada tampak mencolok jika dibandingkan dengan kebiasaan sutradara anime lain yang cenderung membuat adegan pengakuan cinta menjadi terasa sangat romantis. Begitu banyak yang dipertaruhkan dalam penggarapan adegan pengakuan cinta dan, dalam pasar anime romance yang tersaturasi, tiap serial atau film harus melakukan hal unik agar tampak menonjol. Clannad, serial anime Kyoto Animation, yang melibatkan Yamada sebagai sutradara pada salah satu episode, merupakan salah satu contoh pakem yang umum: pengakuan cinta dihadirkan pada puncak akhir anime, momen yang begitu ideal sampai terasa begitu absurd, di kelas yang kosong, seraya matahari terbenam, diiringi musik yang anggun. Adegan tersebut mencapai kesempurnaan estetika yang diinginkan—terbebas dari batasan teknis pembuatan film live-action, animator bisa menyusun tiap detail kecil untuk memaksimalkan efeknya.

Akan tetapi, dalam saat yang bersaman, meskipun terasa indah, kesempurnaan ini juga terasa aneh. Unsur artistik yang membuat momen tersebut mencolok—pencahayaan melodramatis, musik yang mempesona—juga menjadi alasan mengapa ia terasa aneh, seperti dilebih-lebihkan. Bukan perasaan karakternya yang ditonjolkan, melainkan kemegahan estetika yang digunakan untuk menampilkannya, kemegahan yang juga menunjukkan kemustahilannya. Gaya tutur seperti ini didasari oleh suatu logika budaya dari tradisi yang usang, di mana kekuatan cinta seseorang diukur berdasarkan kemegahan adegan—dramanya yang memuncak, pesona tampilannya—ketimbang ketulusan perasaannya.

Kontradiksi ini bersemayam dalam inti adegan pengakuan cinta, adegan klise yang telah diparodikan atau dibelokkan sesering halnya dengan saat adegan tersebut ditayangkan secara serius. Animator dan penonton sama-sama tahu bahwa terdapat hal yang problematik dan bahkan layak dibercandakan darinya, sedemikian hingga adegan pengakuan cinta—yang seharusnya menjadi ekspresi perhatian dan kasih sayang yang tulus—menjadi tereduksi sebagai suatu paket trope lengkap dengan simbol dan isyarat yang mudah ditebak. Namun demikian trope ini tetap hidup, dan tiap generasi baru animator harus mencari cara untuk merancangnya sedemikian hingga sehingga dapat mengekstrak ketulusan dari yang lainnya yang biasa.

Tentunya, Yamada merupakan bagian dari generasi baru ini. Salah satu sutradara anime termuda, berusia 35[2] tahun, yang berhasil memperoleh pengakuan dalam sinema dunia (di sisi lain, sutradara Your Name, Makoto Shinkai, berusia 47[3] tahun). Ia juga merupakan satu dari sedikit sutradara perempuan yang memperoleh status ini dalam industri yang didominasi laki-laki. Tapi lonjakan menuju sukses dalam karirnya juga, mungkin anehnya, dibarengi dengan kecenderungan dalam karyanya yang mengacu pada kesederhanaan yang lebih[4]. A Silent Voice, dan film Yamada selanjutnya, Liz and the Blue Bird, mengangkat perihal yang cukup berat—cinta, penyesalan, penebusan dosa—yang bisa saja dibilang sebagai melodrama klise, namun pendekatan Yamada terasa begitu sunyi, seringkali memprioritaskan penggambaran tekstur perasaan yang subtil ketimbang penekanan narasi yang megah dan mendebarkan.

Dalam A Silent Voice, misalnya, antik-limaks dari pengakuan Shouko yang gagal tidak dihadirkan sebagai parodi yang lucu dari trope pengakuan cinta. Malah, setelah Shouya salah menangkap perkataan Shouko, muncul keheningan yang menusuk, menyakitkan. Tak ada iringan musik girang atau bidikan reaksi yang menyambut momen tersebut; kita, sebagai penonton, merasakan setiap kepedihannya.

Kita juga merasakannya di Liz and the Blue Bird, ketika Mizore yang pendiam mengucapkan pengakuannya dengan canggung, terbata-bata, kepada Nozomi yang bersifat lebih terbuka, yang pada akhirnya dibalas dengan penolakan yang lembut dan pedih. Seperti Clannad, momen tersebut terjadi di dalam kelas yang kosong ketika matahari terbenam, tetapi Yamada menghindar dari penggunaan dutch angle dan bidikan panorama yang dramatis dari serial tersebut. Sebaliknya, ia mengalihkan perhatian kita kepada detail-detail fisik yang kecil—kamera mendekat menyorot mata yang tertunduk, tangan yang gemetar, kaki yang gelisah, menggambarkan ketegangan melalui tubuh sebagaimana halnya percakapan. Yamada menayangkan pengakuan cinta yang, ketimbang digambarkan seperti adegan dalam mimpi, terasa seolah mudah untuk diraba, membumi pada realitas yang tidak nyaman. Jika banyak anime lebih sering menggunakan estetika kemegahan, Yamada menerapkan anti-estetika ketidaknyamanan, estetika yang menekankan beban emosional dari suatu peristiwa.

Sunyi memegang peran penting dalam adegan ini. Tamako Love Story (sekuel film dari Tamako Market garapan Yamada) menghadirkan dua kali pengakuan: pada paruh awal film, ketika Mochizou menyatakan cintanya kepada Tamako, tokoh utama film ini, dan sebaliknya di akhir film. Kedua adegan diawali dengan musik romantis, penuh kerinduan, ceria, dengan suara piano jazz dan biola. Ini merupakan sentuhan artistik yang sering ditemukan di adegan pengakuan cinta—akan tetapi, ketika pengakuan terjadi, musik tersebut berhenti. Yang tersisa, seperti halnya di A Silent Voice, adalah suara bising di sekitar: mobil melaju di jalan raya, aliran air sungai. Estetika dari musik yang indah diganti digantikan dengan realisme tajam dari suara keseharian.

Keheningan tersebut terdengar begitu nyaring karena Yamada sebenarnya bukan sutradara yang pendiam. Film-filmnya biasa dipenuhi dengan banyak aktivitas—keramaian di sekolah, atau misal keramaian para penjual di lorong pasar di Tamako Love Story. Musik berperan penting dalam kedua filmnya: Liz and the Blue Bird, dan juga sekuel filmnya dari serial K-On!, berfokus pada ekskul musik SMA.

Khusus dalam Liz, musik menyelimuti seisi film: berbeda dari produksi anime biasanya, Yamada mengembangkan konsep dan tema film bersama komposer kensuke ushio[5], menyusun storyboard dan komposisi musik bersamaan dan menyelipkan bunyi suasana sekitar seperti langkah kaki dan benda-benda di kelas ke dalam musik latar. Ushio menghasilkan suara yang mengalir begitu nyata, berkilau, perlahan, sepanjang film. Meski begitu, suara tersebut tetap hilang hampir sepenuhnya ketika adegan pengakuan cinta, digantikan oleh serangkaian dengungan logam samar penuh kegelisahan. Jika kebisingan adalah yang menyusun film Yamada, maka keheningan memotong susunan tersebut, ibarat pisau terhadap kain—ia menuntut perhatian, menciptakan ketidaknyamanan.

Sepanjang karyanya, Yamada diam-diam melawan kebiasaan anime pada umumnya yang cenderung merayakan idealisasi berlebihan terhadap adegan pengakuan cinta. Ketimbang bergantung pada isyarat-isyarat klise dari trope tersebut, Yamada mengekspresikan ketertarikan yang lebih subtil, lebih bersifat ambigu terhadap pencarian makna sesungguhnya dari pengakuan cinta. Dalam tiap filmnya, selalu ada yang lebih penting dari pengakuan itu sendiri. Dalam Tamako Love Story, Tamako kesulitan untuk menjawab pengakuan Mochizou, bukan hanya karena Tamako tidak yakin akan perasaannya kepada Mochizou, tetapi juga karena ia tidak yakin akan perasaannya kepada dirinya sendiri. Dalam beberapa percakapan yang dia lakukan dengan teman-temannya dan keluarganya untuk mencoba memahami perasaannya, ia lebih sedikit membicarakan tentang Mochizou secara langsung ketimbang ketakutannya terhadap masa depannya sendiri.

Dalam sebuah wawancara, Yamada menjelaskan ketertarikannya kepada cerita masa SMA dengan berkata: “Aku merasakan keindahan dalam kegundahan yang dirasakan anak remaja ketika perkembangan pikiran dan tubuh mereka membuat mereka bingung dan ketakutan.” Ini adalah ketakutan yang Tamako rasakan begitu dekat. “Apakah kamu takut untuk berubah? Seolah-olah dunia yang nyaman bagimu tiba-tiba berubah begitu saja?” tanya Tamako kepada adiknya Anko. Mochizou, sebaliknya, mencerminkan kestabilan yang mudah dalam hidupnya. “Kita tumbuh bersama,” ucap Tamako kepada temannya Midori, “jadi kupikir semuanya tidak akan berubah.” Ia menjalani hidupnya dengan melihat ke belakang alih-alih ke depan—Yamada berulang kali menyisipkan adegan-adegan kecil mengisahkan memori masa kecil Tamako, pengingat masa lalunya yang terus ia pegang. Tetapi pengakuan Mochizou meruntuhkan kestabilan yang nyaman tersebut. Pengakuan tersebut didorong oleh keinginan Mochizou untuk mendaftar kuliah di universitas di luar kota, memisahkan dirinya dan Tamako, yang pada akhirnya mengubah kehidupan Tamako sebagaimana halnya kehidupannya. Pengakuan tersebut terasa meresahkan bukan hanya karena ia memaksa Tamako untuk menghadapi perasaan temannya, tetapi juga karena ia menggugahnya untuk memutuskan apa yang dirinya inginkan dalam hidupnya.

Dalam esainya “The Sublime and the Good”, Iris Murdoch mendefinisikan cinta sebagai “kesadaran yang sangat rumit bahwasanya sesuatu di luar diri sendiri itu nyata adanya”. Murdoch berpendapat bahwa cinta memiliki “kebebasan yang tragis”. Kita memiliki kebebasan untuk memikirkan adanya kepribadian yang utuh selain milik kita sendiri, untuk menerima bahwa orang lain bisa memiliki kedalaman batin dan kompleksitas emosi yang sama seperti kita. Tetapi kita juga harus merasakan pedihnya rasa sakit dari mengetahui bahwa, karenanya, “tidak ada keserasian yang sudah dibangun sedari awal”—mengakui keberadaan kepribadian orang lain juga berarti mengakui bahwa kepribadian tersebut berbeda dengan milik kita, dan tidak ada jaminan bahwa masing-masing kepribadian yang berbeda tersebut akan selaras, dapat saling menjadi tempat aman, dan menerima satu sama lain apa adanya.

Dalam film Yamada, kebebasan tragis ini dibuat sangat jelas. Sampai pada detik ini, Mochizou telah berperan dalam kehidupan Tamako yang, secara sadar maupun tidak, telah didefinisikan olehnya. Tetapi pengakuan tersebut mengguncang Tamako dari rasa aman yang palsu terhadap Mochizou. Tamako sadar bahwa Mochizou yang ia konstruksi dalam pikirannya bukan orang yang sama seperti yang menyatakan cintanya kepadanya; ia mulai mengakui kepribadian orang lain yang ada di luar kepalanya. Namun yang terpenting, pengakuan tersebut juga menunjukkan bahwa Tamako sendiri bukanlah orang yang sama seperti yang dirinya pikirkan sendiri. Pada akhirnya, Tamako menyadari bahwa ia juga mencintai Mochizou, dan ia ingin Mochizou berada bersama dengannya. Ia menulis ulang versi dari dirinya, versi yang menerima dan mampu menghadapi ketidakpastian masa depan, melangkah lebih jauh dari batas kehidupan remajanya. Dalam karya Yamada, cinta tidak hanya merupakan kesadaran akan kenyataan orang lain: ia juga merupakan kesadaran akan kenyataan dirimu sendiri.

Kebenaran ini digambarkan, mungkin paling kentara, dalam A Silent Voice. Kesalahpahaman Shouya akan pengakuan Shouko terasa menyakitkan bukan hanya karena ia membatalkan resolusi yang Shouko cari, tetapi juga karena ia menjadi cerminan yang tidak mengenakkan terhadap hal traumatis jauh sebelum adegan ini. Dalam adegan pembuka film, kita mengetahui bahwa Shouya, ketika kecil dulu, merupakan perundung yang nakal. Waktu ia dan Shouko dulu satu sekolah SD, dirinya dan teman-temannya kerap kali menyiksa Shouko—membuatnya jatuh di lorong kelas, mencuri alat bantu dengarnya—sampai akhirnya Shouko harus pindah sekolah. Dalam pertengkaran fisik yang menyakitkan, Shouko dengan putus asa berkata pada Shouya, “Aku berusaha sebaik mungkin!” Tetapi, sebagaimana pengakuannya, ia mengucapkannya dengan keras dan bukan dengan bahasa isyarat atau tulisan, dan Shouya membalas, “Aku tak paham maksudmu.”

Kisah yang Yamada ceritakan selanjutnya adalah kisah tentang penebusan dosa: Shouya, sekarang menjadi penyendiri, menghabiskan banyak waktu di film berusaha untuk berteman dengan Shouko, berupaya sebaik mungkin untuk membuatnya bahagia dan bertemu kembali dengan teman-teman lamanya dengan harapan ia bisa menebus dosa lamanya. Namun, Yamada juga memperlihatkan bahwa upaya penebusan dosa yang keliru ini berakar dari kegagalan, dan bahkan penolakan, untuk benar-benar memahami makna penebusan dosa yang sebenarnya. Dalam setiap upayanya, Shouya tidak pernah berhenti untuk bertanya apa yang Shouko benar-benar inginkan. Shouya sangat dilanda rasa bersalah sampai ia tak sadar ia menyakiti dirinya sendiri, tak dapat mengetahui bahwa keinginan tersebut hanya akan membuat Shouko menyalahkan dirinya sendiri atas penderitaannya. Ia pun tidak pernah meminta maaf—sebagaimana Shouko sering lakukan—sampai film berakhir.

Shouya pada akhirnya mengaku, “Aku memahamimu untuk kepuasanku sendiri.” Shouko menawarkannya cinta, tetapi yang Shouya lihat pada Shouko hanya keinginan dirinya yang teramat dalam untuk meminta maaf. Dalam salah satu adegan, Shouya balik menoleh pada Shouko, hanya untuk melihat Shouko kecil, keluar dari fokus, tampak kabur oleh matahari yang begitu terang di belakangnya. Ketika Shouko kembali menjadi Shouko remaja, cahaya matahari mendominasi adegan, menelan Shouko dalam cahaya putih. Momen tersebut menjadi metafora visual dari aksi penebusan dosa yang maha-kuat yang Shouya atributkan pada Shouko, mengabaikan keinginan Shouko yang sesungguhnya. Jika Shouya tidak memahami Shouko sebelumnya, itu bukan karena dia tidak ingin—ia hanya ingin menyelamatkan dirinya sendiri.

Shouya berbanding terbalik dengan Shouko, yang kepribadiannya jauh dari egois, penuh derita, lahir dari kebencian akan dirinya sendiri. Sejak kecil, ia selalu menyalahkan dirinya sendiri atas perundungan yang ia alami—sebuah adegan kilas balik menunjukkan insiden ketika Shouya mengambil paksa alat bantu dengarnya begitu keras sampai telinganya berdarah, yang kemudian Shouko balas dengan berkata, “Maafkan aku,” dan meminta Shouya untuk menjadi temannya. Tetapi cinta memutar-balikkan kebiasan merendahkan dirinya tersebut. Cinta mendorongnya untuk mengenali sesuatu di luar dirinya dan kebencian pada dirinya sendiri; untuk mengakui bahwa ia menginginkan sesuatu dan bukan hanya ingin melayani orang lain. Untuk mengutarakan keinginan tersebut bertentangan dengan segala yang terjadi sebelumnya; untuk membuatnya diterima dan dipahami merupakan tindakan yang membuatnya rapuh dan rentan, yang mengekspos seluruh dirinya. Namun, untuk membuatnya disalahartikan, akan menunjukkan kerapuhan yang lain—bahwa pribadi yang ingin kau tawarkan berbeda dari pribadi yang mereka lihat darimu.

Pada akhirnya, pengakuan cinta dalam A Silent Voice menjadi peristiwa pengenalan diri yang penuh kecemasan—atau bahkan pengungkapan beragam kepribadian yang ada dalam benak tiap karakter, saling beradu mengharapkan validasi. Pengakuan tersebut mengganggu cara pandang pendek mereka: hal yang sering muncul dalam penyutradaraan Yamada adalah manipulasi depth-of-fied, mengaburkan bagian dari gambar, merepresentasikan pandangan pendek remaja penuh keegoisan; pengakuan cinta mengajak mereka untuk melihat lebih jauh dari medan pandang mereka masing-masing, untuk melihat versi diri mereka yang tidak pernah mereka tahu adanya. Pengakuan tersebut memaksa mereka untuk menghadapi kenyataan bahwasanya apa yang mereka inginkan dari yang lain mungkin tidak sama dengan yang diinginkan yang lain dari mereka.

Hal ini sangat jelas terlihat dalam Liz and the Blue Bird. Mizore, layaknya Shouko, sangat mengagumi Nozomi sampai merendahkan dirinya sendiri. Ketika ia dan Nozomi melakukan duet bersama, ia secara sadar-tidak-sadar menurunkan levelnya supaya Nozomi tidak tertinggal. Nozomi sendiri menyimpan campuran rasa iri dan bersalah yang menyakitkan, selalu berharap agar ia bisa seberbakat Mizore, selalu merasa malu karena ia pikir dirinya terus menghambat Mizore. Ia mencintai Mizore, tapi tidak seperti cinta Mizore padanya. Sebagaimana Yamada katakan, “wujud ‘cinta’ [Mizore] kepada Nozomi tidak saling selaras dengan wujud ‘cinta’ Nozomi kepada Mizore.”

Inilah yang Yamada inginkan ketika ia membangun adegan pengakuan cinta—bukan deklarasi perasaan cinta itu sendiri, melainkan rumitnya perasaan yang kacau, rapuh, buruk rupa, yang bersemayam di dalamnya, perasaan yang seringkali anime lainnya abaikan. Dengan membebaskan adegan dari isyarat-isyarat stereotipikalnya, menampilkan katarsis sederhana dari pertukaran perasaan yang romantis apa adanya, ia menggoyahkan tatapan pasif, antisipatif para penontonnya. Alih-alih, Yamada meminta mereka untuk melihat ke arah yang tidak biasa mereka lihat—kepada tangan, mata, kaki; dan juga perasaan yang lebih dalam dari kedua karakternya, yang merasakan sakitnya tidak sanggup mencintai orang terkasihnya dengan cara yang mereka butuhkan untuk dicintai.

Nuansa tersebut seringkali hilang dalam penerimaan karya Yamada. Ulasan kontemporer dari A Silent Voice malah memuji poin “romantis”-nya, membelokkan poin-poin tersiratnya kembali kepada “narasi yang semestinya”, mengesampingkan kenyataan bahwa Shouya tidak pernah benar-benar merespon atau bahkan mengakui perasaan Shouko. Yamada sadar betul akan ekspektasi penonton anime akan kepuasan romantis, tetapi alih-alih tunduk pada ekspektasi berikut, ia menatap kembali penonton dengan pandangan penuh tanya. Ketika ia ditanya saat sesi tanya jawab pasca penayangan A Silent Voice, “Apakah ini kisah cinta?,” ia menjawab dengan balik bertanya, “Menurutmu bagaimana?”

Sikap yang penuh rasa penasaran tersebut menjadi dasar pendekatan Yamada terhadap pengakuan cinta. Jika pengakuan cinta menginginkan karakter untuk melihat lebih dari diri mereka sendiri dan benar-benar mengakui keberadaan orang lain, maka Yamada menginginkan hal yang sama kepada penontonnya: untuk melihat lebih jauh dari pengakuan itu sendiri sampai pada individu yang mengaku dan yang menerima pengakuan, dalam diri mereka yang terdalam, penuh rasa takut dan begitu rentan. Menarik untuk dicatat bahwa dalam ketiga filmnya tersebut, Yamada memilih untuk menelusuri respon yang saling berbeda dari pengakuan cinta: di mana pengakuan Shouko dibiarkan tak terjawab, di situ Tamako menerima dan membalas perasaan Mochizou, sedangkan Nozomi menolak untuk menjawab perasaan Mizore.

Dalam tiap konteks, yang paling penting bukanlah berhasil tidaknya pengakuan cinta, tetapi apa yang pengakuan tersebut lakukan kepada karakter. Pengakuan cinta, biarpun tidak diterima sebagaimana yang diharapkan, tetaplah menandai langkah utama dalam upaya yang sensitif dan penuh rasa sakit untuk saling memahami, yang tiap karakter harus jalani jika mereka benar-benar ingin saling berbagi kehidupan satu sama lain. Benarlah film-film ini menceritakan tentang cinta, tetapi mereka juga menanyakan kepada kita apa yang kita inginkan dari cinta, dan bagaimana keinginan tersebut bisa jadi berbeda dari apa yang cinta bisa berikan kepada kita. Dengan bantuan Yamada, karakternya, dan lebih jauh lagi, penontonnya, akan dapat belajar untuk menimbang perbedaannya, belajar untuk mencari tahu lebih lanjut bisa jadi apa makna cinta sebenarnya.

CATATAN

[1] Lebih besar dari sisi kehidupan yang kita ketahui

[2] Sekarang 39 tahun.

[3] Sekarang 50 tahun.

[4] Perlu diingat bahwa artikel ini ditulis setahun sebelum Yamada aktif kembali dan menyutradarai adaptasi Heike Monogatari yang jauh dari kata sederhana.

[5] kensuke ushio pernah berkata bahwa ia tidak suka huruf kapital dan memilih tidak menggunakannya untuk nama panggungnya

Ian Wang adalah seorang penulis yang sedang menetap di London. Ia menggemari topik mengenai animasi, diaspora asia timur, dan bagaimana seorang sineas menghadirkan inferioritas dalam karyanya. Ia telah menulis untuk Dazed, Little White Lies, the Quietus, It’s Nice That and Bright Wall/Dark Room.

Desain: Noufal Firdaus

 

Tech bros di siang hari, penikmat sinema teranimasi Jepang (wibu) di malam hari. Ingin menghabiskan pertengahan umur 20 dengan belajar ini dan itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top