Mania Cinema

Cinemuach: Menonton Film Sebagai Kegemaran dan Kesenangan

Catatan Redaksi : ‘Memori Sinema’ adalah rubrik terbaru dari kami yang akan mewawancarai orang dari latar belakang yang berbeda untuk membahas bagaimana penglaman mereka menonton film di tahap personal. Kami percaya bahwa kaitkan film dengan pengalaman personal tidak akan pernah terpisah. Selamat membaca!

Hampir semua orang tentu pernah merasakan pengalaman menonton film. Tentunya motivasi setiap manusia ketika hendak menonton pasti beragam, seperti misalnya menonton karena ingin mencari hiburan semata, menonton untuk memenuhi tugas dari dosen atau guru, menonton untuk mengilangkan penat, menonton untuk belajar dan memaknai setiap adegan demi adegan, dan
lain-lain.

Pada kesempatan kali ini kami mewancarai salah satu penonton film yang mungkin cukup dikenal di media sosial twitter. Ia dikenal dengan banyak ciri khas; nama pengguna yang unik, foto profil yang ikonik dan tentunya bagaimana dia memberi rekomendasi tontonan film
yang cukup beragam. Kak Firda atau biasa dikenal dengan nama pengguna twitternya, Cinemuach berkenan untuk menceritakan pengalamannya dengan film dari sudut penonton. Ia bercerita bagaimana pengalaman pertamanya bertemu dengan film, bagaimana film membuka peluang dan pengalaman lain di dalam hidupnya dan banyak lagi.

Simak wawancara kami berikut ini!

Gimana nih kak awal mula kak Firda bisa suka sama film?

Pertama kali aku tahu tentang film ketika aku diperkenalkan sama papaku—pada saat itu aku masih SD dan merasa biasa aja sama film. Suka sama film, tapi tidak seantusias seperti sekarang. Ketika aku masih SD dulu aku nonton filmnya di TV, papaku gemar menyewa kepingan disc dengan berbagai judul film di persewaan film. Hingga akhirnya aku SMP dan aku mulai mengikuti munculnya film baru yang ada di bioskop bersama teman-teman. Akhirnya teman-teman jika ingin menonton film, mereka bakal nanya rekomendasi film yang menurut versiku seru dan menyenangkan untuk ditonton. Hingga aku duduk di bangku SMA pun teman-teman seringnya meminta rekomendasi film ke aku.

Sampai akhirnya aku kuliah, aku juga masih mengikuti munculnya film baru yang ada di bioskop dan aku selalu mengusahakan untuk menonton pada hari pertama penayangan, tetapi masih dalam ranah pemutaran bioskop atau mainstream—belum sampai pada ranah sidestream. Menginjak tahun 2017—tahun ketika aku lulus kuliah dan sedang mencari pekerjaan aku meluangkan waktuku untuk mencari film dan mencoba eksplor berbagai genre. Mencoba menggali berbagai film yang belum pernah aku tahu sebelumnya. Hingga akhirnya aku
berkenalan dengan orang-orang film Twitter seperti mas Andi Akbar, mas Yohan, dan lain-lain. Mereka memberikan aku rekomendasi film yang menantang aku untuk menjelajah lebih dalam lagi. Sampai akhirnya aku bisa menemukan sendiri film yang aku mau dan aku butuhkan—yang awalnya aku dituntun, akhirnya aku bisa jalan sendiri untuk menemukan film yang aku mau.

Aku suka film karena aku seringnya penasaran. Ketika aku memutuskan untuk menonton film tersebut, aku nggak pernah baca review ataupun sinopsis, dan nonton trailer-nya, atau apapun. Ya aku langsung nonton aja dan menelaah sendiri bagaimana filmnya. Ketika aku masih kuliah—aku menonton film sebagai salah satu sarana hiburan. Di usia sekarang, aku menonton
film sebagai salah satu bahan pembelajaran untuk diri aku sendiri juga aku menemukan perspektif baru melalui film yang aku tonton. Film selain sebagai sarana hiburan, juga bisa dilihat sebagai seni dalam menyampaikan informasi.

Tadi kak Fir bilang kalau kakak nonton film karena rasa penasaran—rasa penasaran seperti apa kah?

Awal-awal tuh lebih penasaran dengan ceritanya. Itu sebabnya kenapa aku suka dengan film yang dekat dengan realita sehari-hari. Aku suka menggali film-film indie low budget, dan temanya membumi.

Kak, coba dong sebutin dua atau tiga film yang bikin kakak suka sama film !

 Film-filmnya Jim Jarmusch kali yaa karena memang Jim Jarmusch adalah salah satu sutradara favorit aku—aku suka banget dengan cara dia menangkap peristiwa sehari-hari dalam filmnya dan itu terlihat menjadi menarik. Film pertama beliau yang aku tonton adalah Mystery Train semenjak nonton itu aku langsung eksplor film-filmnya Jarmsuch apalagi nih yang menarik untuk ditonton. Itu aku nontonnya tahun 2017, kemudian aku lanjut jajal Night on Earth dan aku ngerasa relate sama beberapa scene-nya.

Film apa nih kak yang kakak rekomendasikan untuk orang-orang yang baru mengenal film?

Kalo aku ya itu tadi sih cobain Mystery Train sama Night on Earth-nya Jarmusch karena dua film itu ringan banget. Pasti bakal suka, deh! Menurut aku film itu bisa mewaikili kehidupan kita, nggak perlu mikir yang gimana-gimana ya nikmati aja. Nonton mah nonton aja!

Kak, bisa ceritain gak kenapa nama akun sosmed-nya jadi Cinemuach?

Sebenernya akun ini berangkat dari akun pribadi yang emang dari dulu suka bikin tweet tentang film sejak tahun 2017, tapi lebih ke rekomendasi sama review mengenai film. Aku nggak pernah nulis review karena aku nggak merasa diri aku sebagai reviewer. Aku ngerekomendasiin film yang menurut aku penting untuk ditonton untuk khalayak luas. Pada satu malam aku ngerasa
akunku harus mengerucut menjadi sebuah akun yang mmebicarakan tentang kesukaanku—yaudah ngomongin film sama musik. Kemudian aku mencari nama yang mudah dihafal dan diingat atau istilahnya eyecatching—yaudah akhirnya aku memutuskan untuk menggunakan nama cinemuach—cine diambil dari cinema dan muach—adalah ungkapan cinta. Jadilah akun cinemuach yang karena memang aku cinta dengan sinema.

Di sinilah akhirnya ku memutuskan untuk membicarakan segala hal yang berhubungan dengan film tanpa melepas identitasku. Selain film, aku juga suka melakukan kurasi musik. Jadi, yang orang-orang tahu akun cinemuach adalah akunnya Firda yang suka ngetweet tentang film dan musik.

 Kenapa harus ganti nama, kak?

Aku dulu nggak pernah kepikiran untuk jadi akun film karena sudah banyak akun film di linimasa. Hanya saja aku mikirnya kalo cinemuach itu akun yang berbeda dari akun film yang lain. Aku suka mengajak orang-orang untuk menonton film yang sekiranya buatku menarik dan orang-orang mungkin ada yang belum menonton. Cinemuach lebih mengajak orang-orang untuk menonton, sih! Hehehehe.

Apakah nilai sebuah film menjadi bertambah bagi kakak pribadi?

Bertambah sih, ya! Aku dapet tawaran pertama dari visinema. Meskiun aku dapet job buat nonton, tetep nggak ngurangin kesenanganku untuk menonton film. Aku sendiri nggak pernah menjadikan sebuah beban ketika menonton film, apapun filmnya. Karena memang kegemaranku nonton ya aku seneng-seneng aja dan nggak ngerasa punya beban. Perkara filmnya bagus atau
jelek ya itu urusan belakangan.

Tempo menonton kakak dalam sebulan itu berapa kali?

Kalo dulu belum kerja sih sehari bisa menonton 4-5 film. Untuk di usia sekarang karena sudah renta dan sudah uzur 😀 mentok dua film dalam sehari—itu ketika harian, kalau akhir pekan bisa menonton 3-4 film.

Gimana cara kakak buat menikmati film?

Ketika aku menemukan sebuah film dan aku memutuskan untuk menonton dan film itu ternyata bagus itu rasanya kayak menemukan kebahagiaan sih. Sekalipun film yang aku tonton itu nggak bagus, aku masih ngerasa aku mendapatkan sesuatu dari film yang aku tonton. Yaudah aku nikmatin aja sih sama apa yang aku tonton. Aku nonton film apa yang aku mau dan apa yang
aku pengen tonton, sih.

Gimana cara kakak membagi waktu menonton dengan kehidupan pribadi juga pekerjaan kakak?

Jujur untuk saat ini aku memang agak keteteran, terutama aku juga ada kerjaan utama. Biasanya aku bakal menyempatkan menonton di pagi hari sebelum berangkat kerja. Jam 07.00 aku biasanya bakal menyempatkan diri untuk menonton dan sebelum tidur juga aku bakal menonton.

Apanih kak film yang sangat berpengaruh pada kehidupan kakak?

The Green Ray (Le Rayon Vert) filmnya Eric Rohmer karena karakter utamanya si cewek itu relate banget sama aku. Suka sama karakter perempuannya karena ketika si karakter menghadapi kesulitan dan kesedihan itu aku ngerasanya kayak “WAH INI GUE BANGET, NIH!” tapi sejujurnya banyak banget film bagus yang udah aku tonton, tapi tidak cukup berpengaruh bagi aku. Aku belum bisa menyebut yang lain selian Night on Earth sama Le Rayon Vert tadi. Karena seringnya aku memandang film secara umum aja sih kebanyakan.

Ada saran ga kak buat penonton film, petuah atau apa gitu?! Hehehe

Jangan jadi SNOB!!! WKWKWKWKWKW well, sesama penikmat film yaa nikmati aja lah sama apa yang kamu tonton. Jangan ngrasa jago karena udah menonton film obscure. Nggak usah balapan karena nggak lagi lomba. Jangan ngerasa sok pintar hanya karena lebih bisa menelaah sebuah film. Santai aja 😊 intinya nggak usah pamer mengenai refrensi. Boleh berbagi, tapi jangan sombong!

Desain oleh : Nona Damanik

 

Salah satu pendiri Mania Cinema. Sejak SMA, aktif berkomunitas film. Ia tumbuh dengan komunitas film di Pekanbaru. Pernah menjadi juru program di Palagan Films dan anggota di Sinelayu. Ia pernah menjadi peserta di Akademi ARKIPEL dan Lokakarya Cinema Poetica x FFD pada tahun 2020. Saat ini tengah menyelesaikan pendidikan sarjana Ekonomi Islam di UII Yogyakarta.

Sebagian besar waktunya dihabiskan dengan mencari uang, tidur, membantu orang tua, ibadah dan menonton bila sempat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top