Mania Cinema

Nomadland : Melihat Sudut-Sudut Amerika Serikat.

Adegan pembuka dimulai setelah kita dituntun untuk melihat sejarah singkat Empire, Nevada, yang ditinggalkan Fern setelah Tambang Sheetrock tutup pada 2011. Empire adalah kota di mana Fern dan mendiang suaminya menjalani kehidupan.

Sejarah yang ditampilkan di awal menegaskan bahwa film ini berangkat dari kisah nyata, diadaptasi dari buku Jessica Bruder yang berjudul Nomadland: Surviving America in the Twenty-First Century (2017). Buku non-fiksi ini digarap Jessica Bruder yang juga seorang jurnalis Amerika, menarasikan perjalanannya dan mewawancarai sekitar 50 pengembara selama tiga tahun. Di tangan sutradara Chloe Zhao, Nomadland digambarkan dengan karakter-karakter fiksi yang semuanya tetap memiliki latar belakang yang sama, yakni manusia yang sedang menjalani masa tua dan korban terdampak  The Great Recession. Di Amerika Serikat, The Great Recession terjadi di Abad 21 dimulai pada Desember 2007 hingga Juni 2009.

Nomadland (2020) bercerita tentang orang-orang yang hidup Nomaden, kebanyakan adalah penghuni van tua di Amerika Serikat. Meski tiap tokoh memiliki ceritanya masing-masing mengenai alasan mereka memutuskan untuk hidup nomaden, keadaan dan nasib mereka tak jauh beda dengan Fern. Mereka memiliki posisi tawar yang serupa dengan Fern.

Bergumul dengan Kepahitan

Chloe Zhao sangat memanjakan penonton melalui gaya visual. Permukaan dataran yang terhampar luas mengingatkan pada savana di Nusa Tenggara dalam Marlina: Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017).

Lewat visualisasinya, Nomadland dijelaskan bahwasanya seberapa luas tanah indah yang jadi kepemilikan negara tidak menjamin manusia memiliki rumah. Hal ini bisa dilihat dari puluhan van tua dan pemiliknya melintasi alam indah Amerika Serikat yang tampak dalam film ini membuktikan mereka tak memiliki bangunan berbentuk rumah pada umumnya. Adegan saat Fern bertemu temannya beserta dua anak perempuan di supermarket, mengukuhkan status hunian bagi Fern. Saat seorang anak perempuan itu bertanya benarkah Fern sekarang menjadi gelandangan, Fern menjawab dengan tegar, “I’m not homeless, I’m just houseless. Not the same thing, right?”

Nomadland menjelaskan bahwa hidup nomaden bukan hanya tentang jalan-jalan, bersenang-senang, atau bentuk dari eskapisme atas rasa penat kehidupan kota dengan rutinitas yang itu-itu saja. Hidup nomaden di usia 60-an terasa seperti memikul beban ganda. Sepanjang film, Fern terus bergonta-ganti pekerjaan untuk sekedar menyambung hidup.

Ia bekerja di Amazon dan bergabung dengan pekerja usia lanjut lainnya yang di bayar murah. Untungnya, mereka masih sempat bercerita tentang hal-hal yang disukai di hidup ini sambil menyantap makanan. Seperti salah seorang teman baru Fern, yang menceritakan tattoo-nya bergambar penyanyi bergenre Britpop, Morissey dengan lirik-lirik indahnya.

Ada banyak film yang bercerita tentang kehidupan nomaden, seperti The Human Shelter (2018), film dokumenter Boris Benjamin. The Human Shelter menarasikan dengan frontal melawan ‘gaya hidup mapan’, seperti orang-orang yang memilih tinggal di habitat NASA yang mereplikasi isolasi kehidupan planet Mars di tanah vulkanik Hawaii, juga ada warga yang tinggal di kota gubuk terapung di Nigeria. The Human Shelter juga menjelaskan alasan pengungsi di Irak karena adanya perang, juga dengan suku-suku yang hidup nomaden guna mempertahankan tradisinya dengan cara primitivisme demi keseimbangan alam. Tapi, Nomadland memilih perspektif yang lebih dekat dengan tidak bercerita seperti lazimnya film nomaden, melainkan menarasikan wujud kolektifitas antar orang-orang yang bernasib sama di salah satu negara paling luhung di dunia.

Melihat Lebih Jauh

Tokoh-tokoh dalam film ini memaparkan berbagai sudut pandang. Mulai dari Fern yang hidup sendiri sebab ditinggal mati suaminya. Swankie (Swankie) yang menyadari waktu hidupnya tak lama lagi dan memilih untuk hidup nomaden di sisa kehidupannya. Fern bergabung dengan kelompok nomad setelah mengetahui dari temannya bernama Linda (Linda May). Dalam satu adegan di dalam van tua, Linda bercerita kepada Fern bahwa ia telah membesarkan dua anak perempuan dan merasa terjebak di sofa yang ada di rumah kontrakan putrinya, hal tersebut membuatnya memutuskan untuk hidup nomaden. Karakter Linda menjelaskan bahwasanya sebelumnya ia pekerja keras dan ketika tua tak memiliki pekerjaan, ia merasa resah.

Ia juga bertemu dengan seorang mantan dokter di masa Perang Vietnam yang mengidap gangguang PTSD sehingga tak bisa hidup di keramaian dan memilih hidup nomaden. Kemudian ada Bob (Bob Wells) yang menjadi mentor sekaligus rekannya dalam menjalani hidup nomaden. Dan Dave (David Strathairn) lelaki tua yang berinteraksi cukup intens dengan Fern perihal kiat hidup nomaden dan tetap merasa aman di jalanan.

Dalam wawancara Barry Pateman dengan Noam Chomsky pada 2004 dalam Chomsky On Anarchism, Chomsky mengatakan “Emosi normal manusia adalah simpati dan solidaritas, bukan hanya untuk manusia tapi juga untuk lumba-lumba yang terdampar. Itu adalah reaksi normal manusia.” Selagi mengadakan perkumpulan, orang-orang ini melakukan kerja-kerja kolektif dari hal yang paling sederhana.

Mereka mengadakan lapak gratis dengan menaruh barang-barang yang tak dibutuhkan lagi dan menukarnya dengan barang-barang yang dibutuhkan. Sehingga tidak terjadi aktivitas filantropi. Hal ini bisa terbentuk karena mereka juga menyadari hidup nomaden adalah hidup dengan serba keterbatasan. Artinya, mereka tak mungkin mengambil barang yang tidak terlalu dibutuhkan dan hanya mengambil yang paling dibutuhkan saja guna menunjang kehidupan nomadennya.

Selain itu, Nomadland memberikan gambaran tentang menjadi tua dan kesepian adalah dua hal yang datang beriringan. Sepanjang film, banyak ditemukan adegan yang senyap tanpa dialog, merasakan kesepian yang begitu hebat. Salah satu adegan yang menyayat hati, saat malam tahun baru Fern sendirian di dalam van kesayangannya. Ia memakai bando berwarna perak dan meniupkan terompet kecil tahun baru, sedangkan di luar mobil miliknya, samar-samar terdengar suara petasan perayaan pergantian tahun. Berbagai latar belakang tokoh  mengantarkan kita pada satu kepastian, bahwa mereka hidup sendiri mengendarai vannya di usia tua. Bahwa mereka jauh dari keluarga yang masih hidup atau sudah meninggalkan kehidupan ini.

Chloe Zhao berusaha menyajikan sudut pandang berbeda tentang Amerika Serikat sebagai negara idaman banyak orang. Chloe Zhao menyajikan potret kegetiran hidup orang-orang menengah ke bawah yang hidup nomaden dan harus tetap bekerja. Pekerjaan orang-orang nomaden seperti main lotre, pekerjaan apa yang dapat harus diterima demi kebutuhan hidup. Kegetiran hidup perempuan dan lelaki dengan usia lanjut, beban ganda seorang janda tua, dan beban menjadi tua diiringi dengan berbagai penyakit yang diperoleh dari masa lalu.

Nomadland, layaknya berita hasil jurnalis yang menerapkan elemen kedua jurnalisme dari Bill Kovach dan Tom Rosenstiel—keberpihakan terhadap masyarakat—dan Nomadland berpihak pada orang-orang yang terpinggirkan, yang hanya punya pilihan sangat terbatas dalam menjalani kehidupan. Sebab, hidup berpindah-pindah di masa tua dengan van tua dan harus mencari pekerjaan musiman merupakan bentuk keterpinggiran dari hidup layak.

Desain oleh : Hotman Nasution

Nomadland | 2020 | Sutradara : Chloe Zhao | Pemeran : Frances McDormand, David Strathairn, Linda May, Swankie, Bob Wells | Negara Asal : Amerika Serikat| Durasi : 108 Menit | Produksi : Highwayman Films Hear/Say Productions

 

 

Penulis Mania Cinema. Sehari-hari bekerja sebagai jurnalis dan penerjemah lepas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top