Mania Cinema

Rieke Saraswati: Kenyamanan yang Ganjil itu Disebut Horor

“aku mimpi hamil dan perutku transparan

dan anakku mencekik plasentaku pelan-pelan.”

 Begitulah penggalan puisi “Hamil dan Perut Jadi Transparan” karya Rieke Saraswati. Membaca penggalan puisi di atas, barang tentu kita—paling tidak, saya—terbayang visualisasi bagaimana anak yang berada dalam kandungan sedang mencekik plasenta seorang ibu yang mengandungnya. Penuh siksaan, tapi tetap tegar.

Dalam film, seperti dikatakan Rieke, kamu bisa menemukan visualisasi semacam itu pada film-film genre body horror, contohnya yang baru-baru ini lumayan ramai dan membekas bagi saya adalah film Titane (2021) besutan Julia Ducournau.

Rieke Saraswati adalah seorang penulis prosa dan puisi. Penulis kelahiran Jakarta ini telah menerbitkan buku antologi Little Stories: Lotus Creative Project (2014), kumpulan cerita pendek Cukup Sekian Cerita Cinta untuk Hari Ini (2015), dan kumpulan puisi Catatan-Catatan dari Bulan (2019).

Dalam rubrik Memori Sinema kali ini, Mania Cinema mengajak Rieke berbincang perihal kegemarannya menonton film dan kaitannya dengan karya-karyanya. Bagaimana hubungan karya-karyanya yang bernuansa kontra patriarki dan heteronormatif dengan film yang ditontonnya, pengalaman menonton sedari kecil, kegemaran menonton film horor, hingga menjadikan film bak gerbang magis yang ada di kehidupan ini.

 Coba jelaskan secara detail awalnya kamu bersinggungan dengan film?

Saya tumbuh dengan menonton film lewat televisi. Saya jarang sekali ke bioskop, bahkan sepertinya saya hanya satu kali ke bioskop. Ada sebuah momen yang masih saya ingat: nonton film di bioskop pakai kacamata karton 3D, yang di tahun 90-an itu kelihatan super keren.

Ketika saya kecil, televisi sudah banyak menayangkan film-film impor. Saya menonton beragam jenis film, mulai dari film Hollywood seperti Jurassic Park hingga film vampir Hong Kong. Beberapa film Indonesia juga mengisi masa kecil saya, di antaranya film-filmnya Suzzanna, Warkop DKI, dan Catatan si Boy.

Kemudian bisa diceritakan awal mula kamu menggemari film?

Semasa kecil, buku dan film adalah sumber kegembiraan saya. Jika sedang bosan baca buku, saya pasti akan duduk di depan TV untuk nonton film atau serial televisi. Jadi kalau ditanya awal mulanya kapan, ya sejak kecil.

Tapi, film yang dulu paling membekas buat saya adalah film-filmnya Suzzanna. Saya ingat nonton film Suzzanna untuk pertama kalinya waktu pulang sekolah. Judulnya Nyi Blorong (1982), kalau tidak salah. Rasanya campur aduk antara takut, takjub, jijik, syok, dan terus terbayang-bayang hingga keesokan harinya. Dan anehnya, saya ingin menontonnya lagi.

Mungkin karena pada saat itu, saya tidak pernah melihat sosok yang seperti Suzzanna sebelumnya di layar kaca. Saya merasa tokoh perempuan yang sedang saya tonton ini sangat badass; dia bisa menjadi gadis manis dan iblis sekaligus.

 Bagaimana kamu menentukan jenis film yang ingin kamu tonton? Dan film-film seperti apa yang kamu gemari?

Bisa dibilang, saya sangat selektif dalam memilih film yang akan saya tonton. Saya perlu memastikan film tersebut memang pas untuk mood saya saat itu dan ‘layak’ untuk ditonton (karena itu, saya cukup bergantung dengan review dari film critics yang saya ikuti di Letterboxd serta teman-teman yang selera filmnya kurang lebih sama dengan saya).

Saya selalu menyukai film horor. Saya merasa menemukan kenyamanan yang ganjil di dalamnya. Dan film horor yang baik, sering kali membuat saya tersentuh secara emosional. Saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Joe Hill, “Good horror isn’t about sadism; it’s about extreme empathy.”

Meski dianggap sebagai genre kelas kedua, bagi saya horor bisa menjadi alat untuk menyampaikan kritik sosial secara tajam. Horor dapat membuat kita mempertanyakan apa-apa yang selama ini dianggap ‘normal’. Ia siap mengganggu, menantang, dan memvalidasi kita.

Namun, saya juga sadar bahwa film horor bisa sangat seksis dan problematis. Misal di film-film slasher lama, tokoh perempuannya kerap diseksualisasi dan digambarkan shallow. Atau, film-film horor di mana tokoh perempuan yang membangkang atau melanggar aturan sering kali mati duluan.

Secara spesifik, saya senang menonton film-film horor yang memiliki perspektif feminis. Film-film horor yang menghadirkan tokoh-tokoh perempuan yang kompleks, nonkonformis, mempunyai pandangan atau menunjukkan perilaku yang dianggap tidak sesuai menurut nilai-nilai patriarki dan heteronormatif. Film-film horor yang seperti ini membuat saya berpikir, merasa powerful dan tidak begitu sendirian.

Dalam beberapa tahun terakhir saya banyak mengeksplor film-film horor kontemporer yang mengolah pengalaman perempuan dan dibuat oleh sutradara perempuan. Yang saya sukai, di antaranya Raw (2016), Honeymoon (2014), A Girl Walks Home Alone at Night (2014), The Lure (2015), dan The Love Witch (2016)

Saya baru membaca satu bukumu, yakni buku puisi Catatan-Catatan dari Bulan. Menurutku puisi-puisimu tampak tegar menerima penderitaan, nuansanya gelap. Dan isu yang kamu angkat juga tak kalah penting, seperti kekerasan seksual, poligami, dan lainnya. Apakah ada pengaruhnya dengan film-film yang kamu tonton?

 Ya, film adalah salah satu bahan yang penting dalam tulisan-tulisan saya. Saya memungut banyak hal dari film-film yang pernah saya tonton, secara sadar maupun tidak sadar.

Contohnya puisi “Magnolia”, yang terinspirasi dari I Never Promised You a Rose Garden (1977). Di film ini, tokoh utamanya Deborah (Kathleen Quinlan) harus bergulat di antara dunia fantasi dan dunia nyata; dan saya mencoba menyalin tone film ini ke dalam puisi saya. Yang paling memukau saya adalah bagaimana karakter Deborah ditampilkan dalam film ini. Bagi saya, Deborah ialah perempuan yang kuat, dan tentunya kuat tidak selalu berhubungan dengan vitalitas fisik, atau katakanlah seperti Wonder Woman. Dia kuat, karena dia mau dan mampu mengonfrontasi monster-monster dalam dirinya.

Puisi saya yang lainnya, “Pembunuh”, adalah semacam penghargaan untuk  film-film rape-revenge favorit saya, seperti Ms .45 (1981), I Spit on Your Grave (1978), dan Bedevilled (2010).

Biasanya, kalau dari film sendiri, apa yang bisa kamu ambil untuk menulis puisi atau cerita? Misalnya soal deskripsi atau gaya naratif tertentu?

Saya biasanya mengambil vibe, imej, atau tone-nya, untuk kemudian saya rajut ke dalam tulisan-tulisan saya. Puisi “Hamil dan Perut Jadi Transparan”, misal, ide awalnya datang dari mimpi saya (yang selalu aneh). Di dalam mimpi tersebut, saya ketakutan karena tiba-tiba hamil dan merasa tidak punya kontrol atas tubuh saya. Dan bayi yang saya lihat di dalam mimpi itu, dia tampak lucu tapi juga sekaligus absurd. Nah pada proses menulisnya, saya membayangkan imej tersebut seolah berasal dari film-film body horror yang pernah saya tonton. Kemudian saya kembangkan semuanya dari situ.

Salah satu puisi saya yang paling pendek, “Taring”, itu dipengaruhi oleh film-film Euro-cult yang menghadirkan vampir-vampir lesbian macam film-filmnya Jean Rollin dan Jess Franco. Ketika saya punya ide untuk menulis puisi itu, saya sedang giat-giatnya menonton film mereka. Saya jatuh cinta dengan mood film mereka yang sureal, dreamy, puitis, dan saya memvisualisasikan ini saat menulis puisi tersebut.

Saya juga pernah menulis cerita pendek yang terinspirasi dari film dokumenter Grizzly Man (2005), di mana saya membangun karakternya berdasarkan orang-orang yang ada di dalam dokumenter ini.

 Apakah kamu juga menulis film, baik skenario atau kritik?

Saya belum pernah menulis skenario film. Tapi dulu saya menulis skenario acara TV. Sekarang saya tidak tertarik lagi untuk menulis skenario acara TV, karena merasa tidak cocok dengan ekosistemnya.

Terkadang saya membuat catatan mengenai film-film yang saya tonton, namun itu tidak bisa dibilang sebagai kritik film. Tentu saya tertarik untuk menulis skenario film atau kritik film. Dulu sempat belajar dan ingin belajar kembali kalau ada waktu.

Kalau sekarang, kamu biasanya menonton film dari platform apa? Mubi, Netflix, dll atau apa? Dan mana yang paling kamu suka dan mengapa menyukainya?

Mubi, Netflix, dan Apple TV. Baru-baru ini saya subscribe Apple TV, untuk nonton Shining Girls (2022) (saya suka novel ini dan penasaran bagaimana adaptasi series-nya). Di antara ketiganya, saya lebih suka Mubi karena menyuguhkan film-film di luar budaya arus utama. Dan yang terpenting, film-film horornya jauh lebih kece daripada Netflix!

 Bagimu sendiri, film penting tidak di kehidupan ini?

Tentu saja. Film adalah satu gerbang untuk memahami diri kita, mempertanyakan asumsi-asumsi di kepala kita, membongkar gagasan-gagasan dominan. Setelah selesai menonton film yang bagus, hati saya selalu merasa penuh dalam artian happy, excited, thrilled, menyatu jadi satu, seperti menjadi orang yang sama sekali baru. It is like a magic portal and, yes, we need it in our lives.

Diwawancarai dan ditulis  oleh: Bagus Pribadi

Desain oleh: Shafa Salasabilla

Penulis Mania Cinema. Sehari-hari bekerja sebagai jurnalis dan penerjemah lepas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top