Mania Cinema

Turah : Memantik Kepekaan Meski Berujung Kalah.

Sebuah kampung yang asing—atau lebih tepatnya diasingkan—menjadi penopang hajat hidup segelintir orang yang kurang ‘beruntung’. Kampung Tirang, di mana Turah (Ubaidillah) dan warga lainnya tinggal dan menggantungkan hidupnya kepada juragan kaya, Darso (Yono Daryono). Warga Kampung Tirang saban hari bekerja untuk si juragan dan menerima upah yang membuat mereka tidak bisa berharap lebih—hanya mampu menutupi kebutuhan sehari-hari.

Kita bisa merasakan bagaimana Kampung Tirang sangat dikucilkan melalui visual yang disuguhkan di film ini. Wicaksono Wisnu Legowo, sebagai sutradara Turah (2016) berhasil menyajikan itu kepada penonton. Hal ini bisa dilihat dari misalnya, akses menuju Kampung Tirang menggunakan getek, lalu di balik pagar beton di seberang Kampung Tirang yang dibatasi sungai, dapat dilihat lahan industrialisasi dengan bangunan megah. Jaraknya hanya dibatasi sungai kecil, tapi ketimpangan ini jauh ke dasar relung kehidupan yang ada.

Darso sebagai juragan memiliki sumber pundi-pundi keuangannya. Kolam ikan menjadi sentral bisnisnya, disusul dengan ternak kambing. Rumah-rumah yang ada di Kampung Tirang relatif sama dari segi arsitekturnya. Listrik di kampung ini menggunakan mesin manual yang dinyalakan saat malam hari. Konon, Kampung Tirang ini milik Darso dan sebab itulah sudah semestinya mereka bekerja untuknya. Di Indonesia, dalam skala besar kehidupan seperti ini kita bisa melihat pada kebun-kebun kelapa sawit di pedalaman daerah dengan rumah mungil yang dijatah dan penyalaan listrik dibatasi waktu sesuai kemauan perusahaan.

Upaya Memantik Api Perlawanan

Konflik dalam film ini bermula ketika Jadag (Slamet Ambari) merasa diperlakukan tidak adil oleh Darso dan seorang mandor, Pakel (Rudi Iteng) seorang sarjana yang sangat licik. Di bagian ini kita akan bertanya-tanya siapa sebenarnya pemeran utamanya. Sementara Turah, yang namanya menjadi judul film, direbut setir kemudinya oleh Jadag.

Pakel memonopoli segalanya demi kepentingan personal dengan sangat kasar, sehingga Jadag bersikeras melawan Pakel. Tapi bukan berarti si juragan Darso tidak memonopoli keadaan itu, paling tidak ia memetik buah hasil kerja liciknya Pakel. Darso yang bersikap baik dan sangat ramah kepada pekerjanya juga membuat keberadaannya untuk disegani dan ditakuti warga Kampung Tirang.

Dalam beberapa adegan, tampak Darso bersikap sangat baik kepada pekerjanya. Misalnya saat Turah meminta kenaikan gaji dan langsung diaminkan Darso, saat Kandar (Bontot Sukandar) yang bekerja menjaga kambing ditanyai perihal kebutuhan guna menunjang pekerjaannya dan memintanya agar berterus terang mengatakan apa saja yang dibutuhkannya. Bahkan ketika adegan Darso menjenguk seorang anak dan neneknya yang sakit-sakitan di gubuk reot, di mana Darso memberikan uang kepada mereka. Tapi sikap manipulatif seperti itu sama sekali tak melunturkan kepekaan Jadag. Dimulai dari Turah sampai ke Kandar, Jadag menjalankan propaganda yang menjadikannya sebagai pemantik kepekaan. Misalnya saat Jadag bercerita ke Turah bahwasanya dia stres karena kerja bertahun-tahun tapi upahnya segitu-gitu saja, sedangkan Pakel baru kerja tiga tahun sudah diangkat jadi mandor hanya karena bergelar sarjana. Jadag juga mengatakan mereka tak seharusnya menuruti semua aturan yang dibuat Darso dan Pakel, karena seharusnya Darso yang membutuhkan mereka karena kalau mereka semua tak mau bekerja untuk Darso, juragan itu akan kelabakan. “Tuyul disuruh kerja?” kata Jadag.

Propaganda itu tidak berjalan mulus, bahkan Turah sendiri memilih jalur kompromi. Ditambah lagi kehidupan Jadag yang problematis, baik dalam rumah tangga maupun dengan orang-orang di lingkungannya. Hal itu kerap kali menjadi pemicu orang-orang di sekitarnya menyepelekannya meski upaya-upaya yang dilakukan Jadag itu penting.

Wicaksono menyiratkan bahwa sebagai individu, kita tidak bisa memaksakan untuk mengubah sifat individu lainnya. Manusia hanya dapat memberitahu apa yang dianggapnya benar, dan berharap orang lain sepakat dan mengaminkan pernyataannya. Namun film ini juga menjelaskan ketika orang lain tidak setuju dengan kita—terutama orang yang sama-sama kalah—bukan berarti menjadikannya sebagai bulan-bulanan selama tujuh turunan. Hal itu ditekankan pada hubungan Turah dan Jadag yang tetap menjadi rekan di Kampung Tirang.

Rudolf Rocker (1938) berpendapat bahwa pekerja tidak boleh bersikap masa bodoh dengan kondisi ekonomi kehidupannya dalam masyarakat, ia juga tidak boleh bersikap masa bodoh dengan struktur politik negaranya. Baik dalam perjuangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun melakukan beragam propaganda yang mengarah pada kebebasan sosialnya, ia membutuhkan hak-hak dan kebebasan politik, dan ia harus berjuang untuk dirinya sendiri setiap kali hak dan kebebasan mereka disangkal.

Agaknya apa yang dilakukan Jadag sesuai dengan pendapat Rocker dalam lingkup yang lebih kecil namun sama pentingnya dalam kehidupan manusia. Pada Jadag bisa dilihat bahwa titik serangan dalam perjuangan bukan terletak pada mereka yang mempekerjakannya dengan berharap kebaikan mereka, melainkan pada masyarakat itu sendiri—pada pekerja itu sendiri. Kepatuhan terhadap sistem yang diterapkan Darso pada pekerjanya, sama sekali tidak menjamin kebutuhan sehari-hari dan hak lainnya.

Majikan dalam hal ini Darso, akan segera menyiksa pekerjanya jikalau menuntut hak yang seharusnya dimiliki mereka, dan ini menggambarkan watak asli majikan tersebut. Jika pun majikan bersikap baik pada pekerjanya, yang seharusnya dilihat bukan bentuk kebaikan apa saja yang dilakukan majikan, tetapi alasan mengapa majikan itu berbuat baik kepada pekerjanya.

Menuju Ranting Gantung

Karakteristik Turah, Jadag, dan warga Kampung Tirang lainnya sangat mewakili sikap pesimistis. Turah dengan pembawaan yang kalem sepanjang film ini menunjukkan betapa begitulah hidup adanya. Keterasingan Turah dan warga lainnya yang hidupnya dipandang sebagai angka catatan penduduk sehingga dibutuhkan saat menjelang Pemilu saja bukanlah persoalan tunggal melainkan struktural. Begitu juga kematiannya kelak hanya sebagai data statistik negara menjelaskan ketidakberharganya mereka sebagai manusia.

Mereka benar-benar harus melakukan segalanya dengan mandiri, karena majikannya—dalam lingkup lebih luas, negara—sebenarnya tidak peduli dengan keberlangsungan mereka yang hidup di atas ‘seonggok’ tanah bernama Kampung Tirang. Turah menyadari ini sepenuhnya, bahwa keadaan hidupnya sudah mentok, tidak dapat lebih baik lagi meski sejengkal. Hal itu juga disadari istrinya, Kanti (Narti Diono) yang dijadikannya pledoi untuk memutuskan tidak memiliki anak. Kanti benar-benar tak bisa membayangkan betapa mengerikannya hidup anaknya jika persis dengan apa yang dialaminya saat ini.

Berbeda dengan Turah, pesimistis yang tampak pada Jadag lebih mengarah kepada fatalisme. Jadag menuntun kita untuk melihat bagaimana praktik nihilistik di Polandia yang dilakukan para tahanan di dalam Kamp Konsentrasi buatan Nazi dengan Adolf Hitler sebagai penggawanya. Karena tidak bisa dipungkiri salah satu penyebab munculnya praktik nihilistik adalah karena pesimis dan keputusasaan terhadap suatu hal.

Serafinski dalam bukunya Blessed is the Flame (2016) menuliskan, tetapi ketimbang menjalani hidup untuk menunggu kebangkitan massa yang sepertinya tidak akan pernah terjadi, maka lebih baik untuk menyerang sekarang dan lihat ke mana tindakan tersebut membawa kita.

Begitulah yang terjadi pada Jadag. Ia menyerang mereka yang memang pantas untuk diserang dengan tanpa bekal apa pun, karena ia memang tak memiliki akses untuk mempelajarinya. Ia dihantam berkali-kali menyisakan lebam di wajahnya, bangkit lagi dan dihantam lagi bahkan dipenjara barang semalam saja. Sampai pada ia duduk menikmati selebaran kertas judi kesayangannya, turut jua kerangka tulang rusuknya yang tampak, dan malam yang dingin ‘memaksa’ dirinya agar mati dalam keadaan gantung diri di pohon ringkih di halaman rumahnya.

Turah | 2016 | Sutradara: Wicaksono Wisnu Legowo | Produser: Ifa Isfansyah | Pemeran: Ubaidillah, Slamet Ambari, Yono Daryono, Rudi Iteng, Narti Diono, Bontot Sukandar | Negara Asal: Indonesia | Durasi: 83 menit | Produksi: Fourcolours Films

Desain : Nona Damanik

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top